“Jika anda ingin beribadah sebanyak-banyaknya datanglah ke Mekkah. Jika anda ingin ilmu sebanyak-banyaknya datanglah ke Mesir. Jika anda ingin pendidikan sebanyak-banyaknya datanglah ke Gontor,”

PENGALAMANKU : KEBAIKAN ITU MENULAR


Bulan lalu, saya,istri dan kedua anak saya hendak pergi belanja ke mini market dengan naik sepeda motor. Di perjalanan, melewati perkebunan PERHUTANI yang penuh dengan pohon mahoni, saya melihat ada seorang ibu sedang mendorong sepeda motornya dan kira-kira 50 meter di belakangnya ada nenek menggendong anak kecil, mungkin cucunya. Mungkin mogok, atau kehabisan bensin, karena saya liat ban depan dan belakangnya tidak ada masalah, tidak kempes. Sementara bengkel atau pun POM mini masih jauh, sekitar 1Km  lagi.  


 
Setelah saya melewati ibu tadi sekitar 200 meter, saya dan istri putuskan untuk berhenti dan berbalik arah untuk menolongnya. Saya turunkan anak istri saya supaya menunggu di pinggir jalan. Saya hampiri si ibu dan menanyakan masalahnya, dan ternyata benar ibu ini kehabisan bensin dan nenek yang berjalan di belakangnya, yang gendong anak kecil adalah orang tuanya. Nenek tadi saya suruh naik ke motor saya dan saya  coba untuk menstut atau menyetep, mendorong motor dengan menginjak footstepnya, seperti yang biasa anak muda lakukan. Akhirnya sampai  juga di pom mini, ibu tadi tidak henti- hentinya mengucapkan terima kasih dan saya pun harus menjemput istri dan anak saya yang saya turunkan di pinggir jalan sebelumnya.

Saya dan istri bisa melihat dan merasakan kebahagiaan di wajah-wajah mereka karena mendapat pertolongan. Kenapa demikian? Karena saya dan istri  juga pernah mengalami hal yang sama di jalan yang sama. Ketika itu saya kehabisan bensin dan istri di belakang mengikuti sambil gendong bayi, anak saya yang ke dua, sementara pom mini masih sekitar 2 Km. beruntung ada 2 orang pemuda berboncengan yang menolong saya, menyetep hingga pom mini. 

Judul tulisan ini kebaikan itu menular, Alhamdulillah saya bisa menularkan kebaikan si pemuda kepada seorang ibu, nenek dan  cucunya. Satu kebaikan akan mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan juga, berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana kita berharap orang berbuat baik pada kita, teruslah berbuat baik sehingga kebaikan itu ada di mana-mana. Berbuat baik bisa membuat kita bahagia.

KONTAK MATA (EYE CONTACT) DALAM PUBLIC SPEAKING





Di kampung saya setiap malam jum’at biasa diadakan pengajian “riyadlohan”. Dalam kegiatan ini di isi dengan puji-pijian, shalawatan, tawasulan dan diakhiri dengan tausiah dari ajengan (ustadz). Tapi malam itu kita kedatangan salah satu caleg dari suatu partai. Maka tausiah kali ini diisi oleh caleg tersebut sekaligus promosi diri juga minta do’a dan dukungannya kepada masyarakat.

Caleg tersebut di awal pembicaraannya memandang ke atas, ke langit –langit atau ke dinding. Awalnya saya kira itu biasa, mungkin melihat cicak yang sedang menangkap nyamuk, atau melihat jam dinding supaya bicara sesuai waktu yang diberikan. Tapi seiring berjalannya waktu, lima sepuluh lima belas menit sampai setengah jam, saya perhatikan kok memandang ke atas terus, tidak memandang hadirin yang duduk dibawah, lesehan. Bahkan sampai belau selesai bicara hampir tidak memandang atau mengadakan kontak mata dengan hadirin. Mungkin karena malu, grogi, takut atau kurang percaya diri tampil depan hadirin. Sehingga, seolah-olah caleg ini bicara sendiri.

Baca Juga : DERITA GURU HONORER (CURHAT)

Padahal kontak mata atau eye contact dalam public speaking itu sangat penting, dan saudara-saudara juga tahu hal itu, agar supaya pembicara bisa konsentrasi, berwibawa, menarik perhatian, membangun hubungan dengan audiens dan lain lain.

Kunci sukses dalam public speaking menurut Eugane Enrich & Gane R. Haves dalam Speaking For Success (2004) ada lima, salah satunya yaitu kontak mata. Kontak mata adalah kunci sukses public speaking, pidato, atau berbicara di depan umum. Kontak mata adalah salah satu unsur public speaking, selain teknik vokal, gestur dan humor. Kontak mata adalah salah satu alat yang sangat “powerful” untuk membangun komunikasi dengan hadirin atau audiens

Dalam public speaking, tujuan utama kontak mata adalah untuk menunjukan perhatian, persahabatan, kehangatan, melihat, merespon, dan mendukung atau menguatkan kata-kata yang diucapkan.

DERITA GURU HONORER (CURHAT)


Saat ini saya mengajar yang lumayan jauh dari rumah, ya jaraknya kira-kira 138 KM. Ninggalin istri dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Jadi dalam 6 tahun saya alhamdulillah sudah  punya tiga anak, tajem juga kan he he. 

Biasanya saya pulang 2 minggu sekali. Tapi kali ini saya baru seminggu sudah pulang, karena anak saya yang baru usia 10 bulan sakit panas. Istri saya bilang panasnya sudah 5 hari gak turun-turun. Setelah saya tiba di rumah, keesokan harinya saya bawa si bungsu ke sebuah klinik yang jaraknya sekitar 30 KM dari rumah. Padalah di kecamatan saya juga ada puskesmas, cuma karena pelayanannya kurang memuaskan maka saya pilih klinik yang lumayan jauh, di luar kecamatan dimana saya tinggal.

Ketika mau berangkat ternyata anak pertama dan kedua juga badannya agak panas, cuma karena si bungsu sudah lima hari panasnya jadi yang saya bawa ke klinik cuma si bungsu aja. Sodara bisa bayangkan kalau saya bawa ke klinik tiga-tiganya bisa menghabiskan honor 1 bulan atau bahkan gak cukup.


Setelah menempati kamar klinik no 18, sore hari kami lapar, beli nasi bungkus dan keperluan lainnya, kami cuma bawa uang kurang lebih 70 ribu, karena sudah 2 bulan saya belum bayaran dan yang demikian sudah biasa terjadi bagi guru honorer. Setelah makan ada petugas klinik datang bahwa ada pembayaran yang harus didahulukan sebesar 80 ribu. Jujur kami gak da uang, cuma ada 20 ribu, habis buat makan dan keperluan lain. Saya bilang nanti aja dulu bayarnya karena harus ngambil dulu di ATM. Padahal di ATM gak da uang. Karena tadi saya bilang 2 bulan gaji honor saya belum dibayar. Sodara tau sendiri lah guru honorer amat jarang dibayar tepat waktu. Sebelum berangkat, saya minta tolong ke mertua untuk menagih tetangga yang punya hutang sama saya, tapi hasilnya nihil. Ya Allah harus bagaimna ini. Akhirnya saya foto si bungsu, lagi dirawat berbaring dengan infusan di tangan, kemudian saya upload ke grup sekolah dimana saya mengajar, berharap mudah-mudahan pihak yayasan melihat dan mengerti apa yang saya butuhkan saat ini.

Jam 8 malam petugas klinik menagih lagi untuk yang kedua kali pembayaran yang 80 ribu. Kali ini kami sedikit beruntung ada beberapa puluh ribu pemberian kawan-kawan kami yang datang menjenguk si bungsu. Beberapa saat kemudian ada telfon dari pihak yayasan menanyakan kabar, apa yang terjadi dengan si bungsu. Rupanya yayasan melihat postingan saya. lalu saya kabarkan semua dan alhamdulillah pihak yayasan mentransfer honor saya untuk 1 bulan. Terima kasih ya Alloh. Setelah dirawat selama 2 malam, oleh dokter si bungsu dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Ini mungkin potret dunia honorer yang mungkin ada yang kondisinya lebih (menderita) dari saya. Saya akan berusaha mencari sumber lain supaya dapur tetap ngebul.

Ngeriii...... Dibully Kematian dan Nyata Terjadi



Menurut Olweus (1993; dalam Anesty, 2009) memberikan contoh tindakan negatif yang termasuk dalam bullying antara lain:

  • Mengatakan hal yang tak menyenangkan ataupun memanggil seseorang dengan julukan yang buruk;
  • Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena sebuah tujuan;
  • Memukul, menendang, menjegal atau menyakiti orang lain secara fisik;
  • Mengatakan kebohongan atau rumor yang tidak benar mengenai seseorang atau membuat orang lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.

Kalau saya boleh bilang bahwa maksud dari membully adalah salah satunya untuk bercanda atau ngerjain. Dulu di salah satu sekolah, ada seorang guru muda yang sering dibully, terutama di grup WA sekolah. Katakanlah namanya Yudi. Pak Yudi ini sering dibully tentang kematian oleh guru-guru yang lain, mungkin dengan maksud bercanda, dan itu seingat saya berlangsung  cukup lama, sekitar 3 bulanan, sejak di sekolah mulai ada simulasi UNBK. Bully-annya kira-kira begini, umpanya Pak Yudi ini sudah beberapa hari tidak masuk kelas, tidak mengajar, maka di grup WA ada yang bertanya, pak Yudi kemana ya, gak da kabar. Maka yang lain akan berkomentar macam-macam, membully pastinya. Seperti “pak yudi mah sudah pulang ke rahmatullaoh,” kemudian yang lain nambahin “innalillahi... wainna...” dan seterusnya. “Semoga diterima iman-islamnya dimaafkan segala dosanya,” atau “allohummagfilr lahu...” dst.

Baca Juga : TIKUNGAN MAUT KM 13


Sampai terakhir pak yudi mengirim gambar emosi nangis, mungkin kok tega teman- teman membully seperti ini, dibully kematian.


Minggu kedua ramadhan juga masih dibully kematian, seperti bully-an-bully-an di atas. Minggu ke tiga ramadhan jam 10 malam saya buka facebook membaca status teman bahwa pak yudi meninggal karena kecelakaan, mobil yang dikendarainya terjun bebas ke dalam jurang sedalam 30 meter. Tapi saya tidak buru-buru percaya karena terlalu sering membaca bully-an kematian padanya di grup WA, saya pikir mungkin status teman tadi bentuk bullyan juga. Kemudian kawan saya mengirim video evakuasi jenazah pak yudi, barulah saya percaya.


Bully-an terhadapnya yang cukup lama mungkin merupakan firasat atau tanda alam bahwa dia akan meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya. Atau kita sering mendengar bahwa “alkalaamu nisfu ad-du’a” ucapan adalah setengah dari pada do’a. Jadi kita jangan bicara sembarangan, berhati-hatilah dalam ucapan kita, kita harus bicara yang baik-baik, dan mulai sekarang stop membully.


Akreditasi, Saya Dan Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu) Selingan




TASLIYAH AKREDITASI, SAYA DAN MAHMUD ABAS

Saya                  : Ibu, tolong tunjukan ruang perpustakaannya sebelah mana, saya ingin memotonya!?
Ibu muda           : Sebelah sana pak, mari saya antar, silahkan bapak duluan
Saya                  : Ibu saja duluan, kalau saya duluan nanti saya tersesat bu
Ibu muda           : Gak bakal bapak, sekolahnya kan gak begitu luas, jadi gak bakal tersesat
Saya                  : Bukan bu, maksud saya nanti saya tersesat di hati ibu
Ibu muda           : 😍😍💝😜

MENEROBOS LAMPU MERAH KETIKA SEPI

Menerobos Lampu Merah Ketika Sepi


Tadi malam saya bersama kawan kawan pergi ke kota untuk mencari HP baru atau second mengendarai mobil Rush. Dalam percarian tersebut bisa memakan waktu berjam-jam. Jadi sering pulang larut malam, di mana jalanan sudah mulai sepi. Tiba di sebuah lampu merah, salah seorang dari kita bilang “langsung aja gak usah berhenti, sepi ini.”
  

Tentu tak sesederhana itu, terobos lampu merah, habis itu selesai, tanpa memikirkan bahaya bagi orang dan diri sendiri. Tentu kita harus memikirkan hal yang terburuk dari menerobos lampu merah. Beruntung kalau kita terobos dan memang aman, tapi coba jika terjadi sebaliknya. Ketika kita menerobos lampu merah, memacu kendaraan tentu akan semakin cepat, dan ternyata ada kendaraan dari arah yang lain. Tentu terjadi tabrakan atau kecelakaan amat sangat mungkin dan tidak bisa dihindari karena pengereman tidak akan maksimal.

Baca juga : SEBUAH CERITA : BISA KARENA BIASA


Coba kita bayangkan seandainya ada korban, korban cacat atau korban meninggal. Kita tidak tahu mungkin saja korban adalah calon pengantin baru, atau dia adalah tulang punggung keluarga, atau dia adalah anak semata wayang, dan seterusnya. Atau bahkan kita sendiri yang menerobos yang jadi korban. Ingat, keluarga menunggu di rumah. Istri dan anak-anak tercinta yang masih kecil-kecil, yang masih sangat memerlukan kasih sayang dan perhatian kita sebagai orang tua.

Baca juga : TIKUNGAN MAUT KM 13


Menerobos lampu merah adalah bad habit, kebiasaan buruk yang menyebalkan . Terobos lampu merah sangat berbahaya rawan kecelakaan dan akan terjadi persinggungan satu kendaraan dengan lainnya. Mari kita untuk selalu tertib berlalu lintas demi keselamatan dan jangan lagi ada kata “taat kalau ada yang lihat (Pak polisi).”

DEBAT CAPRES DAN CAWAPRES ALUMNI GONTOR


DEBAT CAPRES DAN CAWAPRES ALUMNI GONTOR

 Menjelang pilpres tahun 2019 ada wacana atau usulan debat capres dan cawapres menggunakan bahasa inggris untuk mengukur sejauh mana kemampuan capres/cawapres dalam penguasaan bahasa inggris. Dan Kemampuan berbahasa Inggris seorang pemimpin atau kepala negara penting untuk menjaga dan meningkatkan wibawa bangsa Indonesia di kancah internasional.
Tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengusulkan bahwa Debat calon presiden dan wakil presiden dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris dan tim Joko Widodo-Ma'ruf Amin menolak. Tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengusulkan ini mungkin karena merupakan “kelemahan” tim Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Tim Joko Widodo-Ma'ruf Amin pun akhirnya mengusulkan debat menggunakan bahasa arab karena mungkin merupakan “kelemahan” dari tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Baca juga : NUSRON (WAHID) CAWAPRES JOKOWI
Saya membayangkan seandainya beliau-beliau ini khirrijul ma’had (alumni pesantren) Gontor khususnya, maka debat dengan menggunakan dua bahasa asing, inggris-arab, ini akan terlaksana. Kenapa, karena santri-santri Pondok Modern Gontor khususnya, umumnya seluruh pesantren (alumni) di seluruh indonesia yang menggunakan sistem yang sama seperti Gontor sudah terbiasa ngobrol dengan bahasa inggris dan arab baik dalam diskusi maupun dalam aktivitas sehari-hari. Dan mungkin akan menjadi “lucu” ketika dalam diskusi keluar bahasa inggris gontory dan bahasa arab gontory, yang mana “la yafhamuha illa gontoriyun,” tidak ada yang mememahaminya (orang arab) kecuali orang Gontor. Seperti “ra’yuka goeru jiddan,” idemu gak banget, dan seterusnya.
Memang sepanjang sejarah berdirinya Gontor, seingat saya, belum ada alumni Gontor yang menjadi Presiden atau pun Wakil Presiden. Yang ada baru Capres dan Cawapres, yaitu DR hidayat Nur Wahid dan KH Hasyim Muzadi dalam pemilu 2004.