“Jika anda ingin beribadah sebanyak-banyaknya datanglah ke Mekkah. Jika anda ingin ilmu sebanyak-banyaknya datanglah ke Mesir. Jika anda ingin pendidikan sebanyak-banyaknya datanglah ke Gontor,”

Pimpinan Pondok Pesantren Gontor DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat. Inilah Nasehat Beliau Untuk Para Guru Yang Selalu Saya Ingat

“Patah tumbuh hilang berganti

Belum patah sudah tumbuh

Belum Hilang sudah berganti “

(KH. Abdullah Syukri Zarkasyi)

 


Rabu 21 Oktober, ketika saya sedang jaga Toko kakak saya,  kira-kira pukul 17 saya mendapat telfon dari istri saya yang baru saja membaca status FB temannya bahwa Pimpinan Pesantren Gontor, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA meninggal dunia pukul 15.50. إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎, semoga diterima amal ibadah beliau, diampuni segala dosanya, dan semoga husnul khotimah, amin.

Saya coba cek di medsos, ternyata benar infonya valid. Kabar meninggalnya putra pertama pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi telah ramai di Grup-grup Whats app dan Facebook alumni Gontor.

Saya memang tak seberuntung kawan-kawan saya. Sebagai alumni, saya belum pernah bertemu langsung berhadap-hadapan dengan beliau. Saya juga belum pernah diajar langsung oleh beliau dikelas. Kesempatan untuk bertemu berhadap-hadapan langsung itu ada ketika saya hendak mengambil ijasah KMI bersama beberapa kawan sesama alumni. Namun sayang ketika itu beliau sedang tidak ada, akhirnya kita  hanya bertemu dengan dua pimpinan pondok yang lain yaitu Pak Hasan dan Pak Syamsul Hadi Abdan.

Saya lebih seringnya melihat dan bertemu beliau ketika acara besar pondok, seperti Khutbatul Arsy atau pertemuan di aula untuk mendengarkan pesan dan nasehat pimpinan menjelang libur semester.

Pesan atau nasehat beliau yang selalu saya ingat yaitu dalam pengajaran. Beliau berpesan bahwa dalam mengajar, guru hendaklah mengajar dengan prima, guru harus tampil sempurna di depan murid, semua harus dipersiapkan dengan baik. Maaddah, materi atau bahan ajar, metode yang akan digunakan dan ruh guru harus benar-benar “sempurna.” Al-insaanu mahalul khoto wa annisyaan, manusia tempat salah dan lupa, itu “tidak berlaku” bagi guru. Guru sebisa mungkin jangan menampilkan kesalahan di depan murid, guru harus tampil sempurna. Sekedar contoh bagi guru Bahasa, baik arab ataupun inggris, mungkin terlihat sepele, ketika penulisan kosa kata dalam materi atau bahan ajar, harus diperhatikan huruf demi hurufnya, jangan sampai ada salah tulis. Dari cerita beliau, bahwa beliau pernah mengalami salah tulis dalam bahan ajar dalam penulisan kosa kata Bahasa arab ketika di awal-awal perjuangan mengajar di Gontor, yang harusnya pakai huruf alif, tapi beliau malah pakai huruf ‘ain, yang membuat beliau “dibully” oleh kawan beliau sesama guru ketika itu. Maka dari itu berdasarkan pengalaman beliau, beliau tekankan kepada para guru, terutama Guru Bahasa untuk benar-benar memperhatikan huruf per hurufnya supaya apa yang beliau alami tidak dialami oleh guru-guru yang lain. Di Gontor, bagi guru Bahasa, membawa kamus ke ketika mengajar adalah wajib, supaya guru terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mengajar.


Sampai saat ini kegiatan saya adalah mengajar Bahasa arab dan inggris di sebuah yayasan. Saya ingat betul pesan beliau yang satu ini.

Selamat jalan ayahanda KH.Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Semoga Allah menerima amal ibadah dan jariyah kebaikan antum, diampuni segala khilaf, dan dikumpulkan di tempat yang mulia bersama para kekasih-Nya. Dan semoga anak cucu beliau pun tumbuh menjadi generasi alim-sholeh yang mampu meneladani semua kebajikan beliau.  Amin amin amin Ya Mujibassailin.



Biaya Masuk Gontor, Mahal Atau Murah???

 Biaya masuk Gontor, Mahal Atau Murah?



Assalamu’alaikum wr.wb.

Halo sahabat semua kali ini saya ingin menjawab pertanyaan yang sering muncul dari calon wali santri mengenai biaya masuk Gontor, mahal atau murah?

Mengenai hal ini saya punya dua cerita :

Cerita Pertama ketika saya berkunjung ke Gontor Putri 2. Di bagian penerimaan tamu saya ngobrol dengan seorang wali sanrtriwati kelas lima yang ternyata rumahnya tepat di sebrang jalan depan Gontor Putri. Beliau bilang saya sudah keliling Jawa Timur mencari sekolah murah-berkualitas, berkualitas tapi murah untuk putri saya, ternyata sekolah itu ada di depan rumah saya.

Cerita kedua yaitu ketika saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kecamatan Sumoroto Kabupten Ponorogo. Saya bertanya ke salah salah serang warga di sana. Kenapa sedikit sekali warga Ponorogo yang masuk Gontor? Dia bilang karena Gontor itu sekolah elit, sekolah mahal, kita tidak mampu membayar biayanya. Tapi setelah saya beritahu secara rinci menganai biaya di Gontor, ternyata tanggapannya bahwa Gontor tidak semahal yang dia kira selama ini. Dia bilang Gontor itu mahal karena kurang baca atau kurang informasi

Sekedar perbandingan, sekolah atau pesantren di daerah saya yang saya anggap maju, biaya daftar sekitar 5,5 jutan (tahun 2020), tidak jauh beda dengan Gontor. Biaya sebesar ini di luar kebutuhan santri, seperti untuk beli buku pelajaran atau uang jajan. Sekedar contoh uang makan sekitar 350 ribu. kalau di sekolah di daerah saya, itu untuk 2 kali makan, pagi dan sore. Sedangkan di Gontor untuk 3 kali makan; pagi, siang dan malam.



Bagaimana menurut bapak ibu semua, biaya masuk Gontor mahal atau murah?? Untuk lebih jelasnya mengenai rincian biaya, silahkan kunjungi website di bawah ini

https://www.gontor.ac.id/pendaftaran

Mau Sekolah Ke Gontor? Kenali Dulu Supaya Tidak Menyesal Di Akhir


اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎

Apa kabar semua ? Semoga sehat selalu . Tulisan ini ingin memberikan sedikit pencerahan bagi siapa yang ingin menyekolahkan anaknya ke Gontor . Santri yang mendaftar ke Gontor terus bertambah setiap tahunnya . Ini bukti bahwa kepercayaan masyarakat kepada Gontor semakin tinggi . Namun demikian terkadang ada beberapa orang yang berhenti di tengah jalan atau mengundurkan diri setelah beberapa bulan menjadi santri. Karena Gontor tidak sesuai yang diharapkan . Gontor kok gini sih?  Ternyata Gontor seperti itu ya .


Untuk itu kenali dulu Gontor lebih dekat supaya tidak ada penyesalan diakhir nanti . Melihat gontor jangan hanya satu sisi. Melihat Gontor jangan seperti orang buta memegang gajah . Bicara tentang gontor tidak akan habis dalam seminggu, bulan bahkan tahun sekalipun. Bicara tentang Gontor banyak sisi yang harus diungkap , banyak dimensi yang harus dijelaskan . Bahkan bapak ibu semua tidak cukup hanya mengenal Gontor hanya dari google atau dari para alumninya saja, tapi juga cobalah berkunjung langsung ke Gontor. Kunjungan juga tidak akan cukup satu atau dua kali .

Jenjang di Gontor

Gontor itu jenjang pendidikan menengah , ada kelas reguler dan intensif. Kelas reguler untuk lulusan SD ditempuh selama 6 tahun. Sedangkan kelas intensif untuk lulusan SMP, SMA dst, ditempuh selama 4 tahun . 

Pengabdian 1 Tahun

Setelah lulus harus mengabdi 1 tahun. Ijasah tidak akan keluar kecuali setelah selesai pengabdian. Jadi lulusan SD akan menempuh selama 7 tahun dan yang dari SMP dan seterusnya akan menmpuh selama 5 tahun . 

Menggunakan Kalender Hijriyah

Gontor menggunakan kurukulum mandiri, tidak menginduk ke Kemendikbud ataupun Kemenag .Tahun ajaran baru dimulai tanggl 11 Syawwal Dan di Gontor tidak ada Ujian Nasional (UN) 

Yakin masih banyak yang harus kita ketahui tentang Gontor supaya bapak ibu semua mengenal lebih dekat lembaga pendidikan untuk anak-anak kita, dan supaya tidak ada penyesalan karena terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan.

Gontor dan Pendidikan

Jika kita ingin mengajukan izin operasional sekolah, maka di antara syarat yang harus dilampirkan yaitu surat rekomendasi dari  UPT/UPTD Kecamatan dan juga surat rekomendasi dari sekolah terdekat. Ketika saya ke UPT untuk meminta surat rekomendasi, saya ngobrol dengan kepala UPT. Dalam obrolan tersebut bapak kepala UPT mengatakan bahwa saat ini salah satu putrinya mondok di Gontor putri dan beliau bilang akan menjenguk putrinya setelah idul adha.


Empat hari kemudian saya juga ke SMP terdekat untuk tujuan yang sama yaitu meminta surat rekomendasi. Di ruang tamu SMP ada seseorang yang ternyata sedang menunggu bapak kepala sekolah. Saya ngobrol ngalor-ngidul dengan bapak ini. Dilihat dari gaya dia bicara dan juga gesturnya, saya coba menduga-duga bahwa bapak ini orang LSM. Dia bertanya kepada saya mengajar pelajaran apa, saya bilang pelajaran bahasa arab dan bahasa inggris walaupun ijasah saya S1 PAI (Pendidikan Agama Islam), mungkin karena saya alumni Gontor. Bapak ini bilang bahwa keponakannya juga dua orang di cianjur alumni Gontor.

Di SMK di mana saya mengajar pun ada beberapa siswa-siswi yang lumayan pasih berbahasa arab. Ketika saya ngobrol dengan mereka, saya bertanya di mana kalian belajar sebelum masuk SMK, mereka menjawab di sekolah ini, di pesantren itu. Dan ternyata di sekolah dan pesantren mereka sebelumnya ada beberapa alumni Gontornya. Nama Gontor begitu terkenal di seantero Nusantara, terkenal dengan pendidikannya yang berkarakter sehingga kepercayaan masyarakat makin bertambah pula. Semoga Gontor dapat terus berkiprah dan memberi kontribusi besar bagi kemajuan bangsa, khususnya di bidang pendidikan. 

DO'AKU SEMOGA HUSNUL KHOTIMAH DI GONTOR


Tes masuk Gontor gampang-gampang susah. Gampang bagi meraka yang dari pesantren alumni (Gontor) susah bagi mereka yang bukan dari pesantren alumni, minim informasi (ketika itu). Beruntung saya termasuk yang lulus walaupun bukan dari pesantren alumni. Saya duduk dikelas 1 W, kelas terakhir hasil ujian seleksi. Kemudian mengikuti ujian untuk kelas intensif bagi lulusan SMP. Alhamdulillah duduk di kelas 1 intensif I. Kemudian tahun berikutnya duduk di kelas 3 intensif K, turun peringkat, 2 kelas. Kelas lima N, makin menurun. Dan ujian untuk naik ke kelas 6 salah satu ujian terberat di Gontor sehingga belajarnya harus sungguh-sungguh. Alhamdulilah kembali duduk di kelas 6 I seperti kelas satu dulu. Kelas I ini adalah kelas tertinggi yang pernah saya duduki. Mereka yang punya otak encer sudah pasti duduk di kelas B, C D dan sterusnya. 


Mungkin bagi sebagian santri, kelas merupakan kebanggaan, buat saya tidak. Buat saya yang terpenting adalah husnul khotimah, selalu naik kelas biarpun kelas bawah, lulus jadi alumni, jangan sampai keluar dari Gontor karena tidak naik kelas, kabur, atau karena terkena kasus dan diusir. Na’udzubillah.

Libur semester pertama saya sudah berniat tidak akan balik lagi ke Gontor. Tapi kawan-kawan satu asrama, teman-teman satu kamar menasihati saya supaya tetap di Gontor, ingat perjuangan orang tua susah payah daftarkan kita ke Gontor. Dan anehnya kawan-kawan yang menasihati saya justeru tidak sampai tamat di Gontor. Teman di kelas 5 N 40 orang, hanya sekitar 20 orang yang sampai alumni. Sisanya ada yang mengundurkan diri, ada yang tidak naik kelas kemudian tidak melanjutkan. Ketika kelas 6 beberapa kawan saya ada yang terusir karena terkena kasus, padahal mereka duduk nya di kelas tinggi, misal kelas B, C, D, juga hanya tinggal menunnggu pengumuman kelulusan dalam beberapa hari kedepan. Bahkan dari cerita kakak kelas saya ada yang diusir/dukeluarkan hari ini gara-gara kasus pencurian, padahal besok pengumuman kelulusan, orang tua dan saudara-saudaranya datang untuk menghadiri wisuda.
Maka saya bersyukur walaupun duduk dikelas bawah, tapi saya lulus dengan husnul khotimah, bahkan sampai wisuda di ISID/UNIDA, yang mana dulu saya berniat di Gontor cukup satu semester saja.

Gontor Dan Masyarakat Sekitar (berkah)


Berkah menurut bahasa adalah nikmat atau karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Sedangkan berkah menurut istilah adalah ziyadatul khair, yakni bertambahnya kebaikan 


Tahun 2017 terakhir saya berkunjung ke Gontor untuk mendaftarkan anak tetangga. Gontor tidak lagi seperti 16 tahun yang lalu. Gontor sudah banyak berubah, banyak gedung baru. Juga di sekitar lapangan hijau banyak berdiri warung makanan. Ini karena tamu yang datang ke Gontor makin banyak tiap tahunnya, yang mana butuh akan makan dan minum. Terutama di bulan syawal, di saat dibukanya tahun ajaran baru tercatat sebanyak 31 ribu orang menuju Gontor. 



Maka Gontor benar-benar berkah bagi masyarakat sekitar pesantren, tidak hanya bagi mereka yang membuka warung nasi, tapi juga tukang ojek, penarik dokar, supir, laundri dll. Selama dua bulan, syawal dan dzulqo’dah setiap tahunnya, Gontor akan selalu kebanjiran tamu. Warung-warung nasi di sekitar pondok penuh sesak terutama waktu pagi dan sore. Warung ini biasanya buka dari jam lima pagi hingga jam 10 malam. Kalaupun ada warung yang tutup, itu bukan karena dagangannya tidak laku atau kehabisan, tapi karena pemilik warungnya kelelahan melayani para tamu yang datang ke pondok dari berbagai daerah di indonesia. Ini seperti berkah musim haji di arab saudi bagi para pedagang, baik itu pedagang makanan ataupun barang.


Di sela-sela obrolan saya di warung bersama tamu-tamu yang datang ke Gontor untuk mendaftarkan anaknya, saya tahu bahwa di antara mereka ada yang benar-benar sudah mengenal Gontor karena mungkin dia alumni, atau ada anggota keluarga atau tetangganya yang alumni, atau sekedar mencari informasi di google, dan ada juga yang belum mengenal gontor sama sekali. Saya sebagai alumni mencoba memberikan atau mengenalkan Gontor sejauh yang saya kenal, dari mulai cara mendaftar, materi yang akan diujikan, seperti apa disiplinnya dll.

Baca juga : GONTOR, NU ATAU MUHAMADIYAH??
Baca juga : MENGENAL GONTOR LEBIH DEKAT 


Selama saya di sana kurang lebih dua seminggu, ketika saya mau membayar makanan dan minuman yang saya pesan ternyata ditolak, loh kenapa? Ternyata sudah dibayarin oleh tamu yang ngobrol dengan saya. Kejadian seperti ini saya alami dua kali. Ternyata Gontor tidak hanya berkah untuk masyarakat sekitar, tapi juga untuk tamunya seperti saya.he.. he..

Cara Daftar Ke Gontor (tahapan)

Menyekolahkan anak ke PM Gontor ini memang butuh keseriusan, kesungguhan dan butuh pengorbanan, baik itu tenaga, biaya, waktu atau pun pikiran. Pendaftaran Calon Pelajar (Capel) di PM Gontor tidak melalui korespondensi, telepon atau online, tapi diadakan secara langsung di kampus PM Gontor, dan pendaftaran tersebut meliputi 7 tahapan, juga diberlakukan sistem kuota, tiap harinya disediakan nomor antrian hingga 200 orang. Sistem kuota ini untuk memecah kerumunan pendaftar, tidak berdesak-desakan dan supaya tetap kondusif.

Baca juga : BEASISWA AL-AZHAR (MESIR) UNTUK GONTOR

Berikut adalah langkah atau tahapan pendaftaran capel di PM Gontor : 
Pertama, ketika sudah sampai di halaman depan atau di pintu masuk area gedung Rabithah, segeralah mengambil nomor antrian, karena hanya disediakan untuk 200 pendaftar setiap harinya.
Kedua, mengambil formulir pendaftaran, biasanya dalam sebuah map yang mana disertakan juga list persyaratan-persyaratan yang harus   dipenuhi.
Ketiga, mengisi formulir pendaftaran serentak setelah isya atau sekitar jam delapan dipandu oleh panitia.
Keempat, membayar administrasi sekaligus pemeriksaan kelengkapan persyaratan-persyaratan. Pada tahapan ini akan mendapat nomor urut perserta ujian dan tempat ujian lisan.
Kelima, pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan di gedung rabithah lantai dua
Keenam, mengikuti ujian lisan. Ini syarat untuk mengikuti ujian tulis yang dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 syawal.
Ketujuh, mengikuti ujian tulis yang dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 syawal. Pengumuman tempat dan ruang ujian tulis ditempel di papan informasi dan juga di depan ruang ujian. Malam 11 Syawal seluruh capel sudah harus mengetahui tempat dan ruang ujiannya masing-masing. Pengumuman hasil ujian pada tanggal 15 syawal.

Demikian tahapan-tahapan atau langkah-langkah pendaftaran di PM Gontor yang dilaksanakan pada tahun 2017 yang lalu. Untuk tahun 2018 kemungkinan ada perubahan tahapan-tahapan tadi, tapi paling tidak, mudah-mudahan bisa menjadi gambaran bagi calon pelajar dan wali santri. Tahapan pertama sampai keenam dilaksanakan dengan mengantri, so be patient please!!! Jadi harap sabar nunggu giliran.

Cerita Cinta Di Gontor (Gontor Love Story)

Agustus 2009 saatnya saya mendaftarkan adik saya yang baru lulus SMP ke Gontor Putri 2 (GP 2). Di GP 2 kali ini saya  bertemu seorang tamu dari Lampung, seorang bapak usia antara 55 – 60, yang mana tiga orang dari anaknya beliau masukkan ke gontor. Ada yang sudah jadi ustadzah di GP3, ada yang sudah kelas 3 di Gontor Putra, dan ada juga yang baru didaftarkan di GP2. Selama tiga hari di GP2 saya sering ketemu ngobrol dengan beliau ini. Saat kami tengah ngobrol datang menghampiri seorang ustadzah memakai jas almamater ISID, sekarang UNIDA, bersama calon santriwati. Rupanya mereka ini adalah putri beliau, cantik- cantik, he... Akhirnya kami ngobrol berempat. Setelah beberapa saat kedua putrinya pamit untuk kembali lagi ke asrama sementara yang ustadzah kembali ke GP3 karena jaraknya dekat dari GP2.

Baca juga : GONTOR, SEKOLAH MURAH BERKUALITAS SE-JAWA TIMUR

Di ujung obrolan, si bapak minta nomor HP saya, saya pun minta balik nomor HP si bapak. kita bertukar nomor. Si bapak bilang ini bukan no HP saya, tp nomer HP anak saya. Loh kok...? saya bingung.. anak bapak yang mana, yang calon santriwati apa yang ustadzah? Beliau bilang yang ustadzah. Ketika ngobrol berempat saya sempat berpikir gimana caranya supaya dapetin no HP ustdzah. Tapi... malu ah baru aja ketemu dah agresif, pake mnta no HP segala. Eh gak taunya malah dikasih sama bapaknya. Emang rizki gak kemana, he...

Tapi walaupun begitu pantang buat saya hubungin cewek lebih dulu. Untuk membuktikan bahwa dia ada perhatian buat saya (aaah ke-PeDe-an lu). Dan ternyata benar dia yang hubungi saya lebih dulu mungkin sudah dapet nomer saya dari bapaknya. Sejak saat itu kami berhubungan lewat SMS. Kita jalani LDR (Long Distance Relationship). Sesekali saya bertemu kalau jenguk adik saya di GP3. Karena saya pesan kalau seandainya adik saya lulus mohon ditempatkan di GP 3 biar bisa diawasi oleh calon kakak iparnya (ngarep lu..). He... Saya bermimpi punya keluarga Gontori. Yang mana komunikasi dalam keluarga nanti kalau gak arab ya inggris. Sehingga anak-anak pun nantinya terbiasa bicara arab-inggris sejak dini. Tapi ternyata kita tidak ada jodoh. Kini ia bahagia di sana, di lampung, bersama belahan jiwanya. Mungkin ada benarnya kata motivator Mario Teguh “cinta yang jauh dan jarang bertemu akan digantikan oleh cinta yang dekat dan akrab.”

GONTOR, ISID DAN SEPAK BOLA



GONTOR, ISID DAN SEPAK BOLA
Sepak bola adalah olah raga paling populer di dunia, begitu juga di Gontor. Di mana ada Gontor dibangun, maka lapangan adalah fasilitas yang wajib ada. Karena lapangan adalah tempat untuk mengadakan berbagai kegiatan yang ada di  pondok. Seperti Khutbatul ‘Arsy, upacara bendera, porseni, olah raga dll. Maka dari itu salah satu wasiat pak Kiai Hasan bila ada santrinya yang ingin membuka pesantren (putra), yang harus pertama dipikirkan adalah lapangan bolanya. Sebab shalat bisa di lapangan, sedangkan main bola tak mungkin di masjid. Sedangkan kalau mau buat pesantren putri yang pertama dibangun adalah pagarnya.


Salah satu wasiat fenomenalnya bila ada santrinya yang ingin membuka pesantren, "Kalau mau buat pesantren (putra), yang harus pertama harus difikirkan adalah lapangan bolanya. Sebab sholat bisa di lapangan, sedangkan main bola tak mungkin di masjid. Sedangkan kalau mau buat pesantren putri, yang pertama dibangun adalah pagarnya."

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/amamasei/peresmian-stadion-gontor-bersama-lailul-messi_5746c11b42afbdce1c421eac
Salah satu wasiat fenomenalnya bila ada santrinya yang ingin membuka pesantren, "Kalau mau buat pesantren (putra), yang harus pertama harus difikirkan adalah lapangan bolanya. Sebab sholat bisa di lapangan, sedangkan main bola tak mungkin di masjid. Sedangkan kalau mau buat pesantren putri, yang pertama dibangun adalah pagarnya."

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/amamasei/peresmian-stadion-gontor-bersama-lailul-messi_5746c11b42afbdce1c421eac
Salah satu wasiat fenomenalnya bila ada santrinya yang ingin membuka pesantren, "Kalau mau buat pesantren (putra), yang harus pertama harus difikirkan adalah lapangan bolanya. Sebab sholat bisa di lapangan, sedangkan main bola tak mungkin di masjid. Sedangkan kalau mau buat pesantren putri, yang pertama dibangun adalah pagarnya

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/amamasei/peresmian-stadion-gontor-bersama-lailul-messi_5746c11b42afbdce1c421eac
Salah satu wasiat fenomenalnya bila ada santrinya yang ingin membuka pesantren, "Kalau mau buat pesantren (putra), yang harus pertama harus difikirkan adalah lapangan bolanya. Sebab sholat bisa di lapangan, sedangkan main bola tak mungkin di masjid. Sedangkan kalau mau buat pesantren putri, yang pertama dibangun adalah pagarnya

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/amamasei/peresmian-stadion-gontor-bersama-lailul-messi_5746c11b42afbdce1c421eac
Di ISID (siman) juga sebagai salah satu lembaga yang berada di bawah Badan Wakap Pondok Modern  Gontor, memiliki lapangan. Di mana para mahasiswa bermain bola setiap hari. Tiap sore para mahasiswa bermain sepak bola tidak kenal cuaca. Mau cuaca cerah ataupun hujan, mau lapangannya kering ataupun becek. Dan sepak bola inilah yang membuat saya betah di ISID. 

Baca juga : TIDAK NAIK KELAS DI GONTOR

Kehidupan di kampus ISID tentu berbeda dengan kehidupan santri di Gontor. di ISID sedikit lebih longgar sementara di Gontor disiplin tinggi (ketat). Di ISID berbahasa resmi (arab-inggris) tidak wajib, tapi dianjurkan untuk berkomunikasi dengan dua bahasa tersebut. Karena sudah terbiasa sewaktu jadi santri, mereka hampir selalu berkomunikasi dengan kedua bahasa, arab-inggris. Di (asrama) kampus ISID disediakan TV sehingga para  mahasiswa bisa nonton kapan saja asalkan tidak mengganggu kegiatan kampus. Maka pada masa  awal-awal di ISID inilah saya mulai mengenal liga-liga terbaik dunia, seperti liga inggris, liga spanyol, liga itali dll. Liga inggris biasa nya tayang lebih awal, sementara liga-liga yang lain tayang dini hari, sekitar jam satuan. Apalagi liga champion tayang menjelang subuh. Sehingga banyak mahasiswa tidak ikut shalat berjamaah subuh, karena ngantuk  dan membuat (dosen) pengasuh mahasiswa “murka”. Akhirnya pengasuh mengeluarkan aturan jam 10 tv harus dimatikan. Namanya juga mahasiswa, walaupun ada aturan seperti itu, nonton tv berjalan seperti biasa, apalagi kalau sudah musim liga champion. Sering mahasiswa kucing kucingan dengan dosen pengasuh karena kedapatan nonton tv larut malam karena nonton bola.
Setelah beberapa lama nonton liga inggris akhirnya ARSENAL jadi klub favorite saya. Puncaknya, arsenal juara liga musim 2013-2014 tanpa kekalahan, yang mana waktu itu arsenal dihuni pemain top dunia seperti Thiery henry, Robert pires, Patrik viera dll.


Apa yang saya lihat di tv, bagaimana orang lain bermain bola dengan indah, saya pun ingin meniru mereka, ingin mempraktekannya di lapangan. Jujur, saya tidak bisa bermain bola, hanya sekedar suka. Akhirnya saya coba ikut bermain bola bersama mahasiswa lain tiap sore. Main bola keroyokan, tanpa wasit,kalau ada pelanggaran “bi-adh-dhomir” aja, jadi wasitnya jamaatan.

Baca juga : GONTOR, BAHASA DAN SERTIFIKASI
Pertama saya coba jadi penjaga gawang. Tapi suatu ketika saya memblok tendangan keras hingga membuat jari saya bengkak. Akhirnya berhenti jadi kiper, Kemudian jadi bek. Di posisi ini pun saya tetap bermain buruk. Karena tiap main saya selalu gugup, nerves, demam panggung, merasa jadi pemain paling bodoh. Akhirnya sering kena “semprot”, dibentak-bentak pemain senior.
Kemudian saya pindah jadi winger, sayap kiri. Di posisi ini sedikit merasa nyaman. Seiring berjalannya waktu, saya banyak belajar bagaimana seharusnya bermain bola, pengalaman dan jam terbang sangat penting. Tidak lagi nerves, saya anggap diri saya paling pinter di lapangan. Kepercayaan diri saya tumbuh.
Saya pun mulai bisa mencetak gol,walaupun bukan seorang striker. Ternyata ada kepuasan tersendiri ketika bisa mencetak gol. Dan akhirnya hampir di tiap pertandingan selalu mencetak gol. Pernah suatu sore saya mencetak 6 gol dalam satu pertandingan.  Saya pun ikut klub sepak bola yang ada di kampus, yaitu duron.  Ketika ada turnamen di kampus nama saya selalu terpampang di deretan nama pencetak gol, walaupun bukan seorang striker, tapi winger. Saya juga pernah dilatih oleh mantan pemain PERSEPON Ponorogo,yang umurnya seumuran Robi Darwis(mantan pemain PERSIB).
Karena mungkin kawan-kawan mahasiswa melihat saya sering mencetak gol, maka ketika turmanen antar Fakultas saya ditempatkan di possisi striker, yang sebelumnya belum pernah saya bermain di posisi ini. Bisa ditebak saya tidak bisa mencetak satu gol pun, jadi striker mandul, akhirnya kembali lagi menjadi winger. 



Saya juga pernah dilatih eks pemain PERSEPON Ponorogo, lebih tepatnya pelatihan singkat, COACHING CLINIC yang di adakan kampus. Kadang di di akhir latihan kita adakan tanding dengan tim ISID FC, tim nasionalnya kampus, dengan durasi 2x15 menit. saya pun mencetak satu gol dan satu asist. tentu saya merasa bangga karena dilihat oleh pelatih. Pertandingan berakhir 2-0 dengan kekalahan tim ISID FC.

Baca juga : EMANG RIZKI GAK KEMANA
 
Sekarang, ketika saya sudah menikah disibukkan oleh pekerjaan untuk menghidupi keluarga, saya sudah jarang berolah raga, apalagi bermain sepak bola, hampir tidak pernah. Badan pun mulai gendut, perut buncit. Bermain bola setengah babak saja nafas saya sudah senen-kemis, tuur nyorodcod (lutut gemetar,) betis jadi paregel (pegal-pegal).
Saya bercerita sepak bola tidak ada maksud untuk berbangga diri, tapi untuk mengenang masa muda saya ketika masih di kampus, sebagai wujud kecintaan saya terhadap sepak bola. Sampai sekarang pun saya selalu berusaha nonton pertandingan sepak bola khususnya ARSENAL  dan PERSIB. Dan untuk setiap kemenangan ARSENAL saya sudah bernadzar saya sisihkan uang ke kotak amal masjid Rp 2.000-10.000. wujud syukur atas kemenangan klub favorit saya. Saya bermimpi, suatu saat ingin nonton ARSENAL  langsung di Emirates Stadium. Tapi akankah jadi nyata atau hanya sebuah UTOPHIA, sebuah mimpi yang tidak akan pernah jadi nyata
Saya sedih, di saat di negara lain sepak bola sudah menjadi industri, di Indonesia malah berjalan mundur, menuju kehancuran. Kapan Indonesia bisa tampil di piala dunia? Entahlah.